BREAKING NEWS

Category 5

Awesome

Category 4

Popular Posts

Style 4

Category 5

Event more news

Latest Updates

Rabu, 13 Januari 2016

Sang Suami



Sahabat, menikah bukanlah untuk sekedar melampiaskan nafsu yang sudah bergolak, menikah adalah BAI�AT kita kedua kepada Allah SWT untuk membangun sebuah Komunitas Terkecil untuk menegakkan Aturan Allah SWT, nah ketika Aturan Allah SWT itu kita tegakkan bersama pasangan hidup kita maka yang tejadi adalah Keindahan, Ketenteraman, Kedamaian, Kebahagiaan dan Ketenangan, dan inilah Modal untuk MEMACU meraih VISI Keummatan yang lebih besar yaitu Kaaffatan Linnas dan Rahmatan Lil�Alamin, menebar Kasih Sayang seluas-luasnya untuk memberi manfaat kepada seluruh ummat.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."(Q.S. Ar-Ruum, 30:21).

Pernikahan itu telah berjalan 4 tahun, namun pasangan tersebut belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik, "kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? suaminya atau istrinya?" Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapapun, pasangan itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melaksanakan pemeriksaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apapun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak ada peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak. Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

Lalu sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki. Sang suami berkata pada dokter, "Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti dokter jelaskan pada istri saya bahwa masalahnya ada pada saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa". Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa dokter, akhirnya sang dokter setuju.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersamaan sang istri ia memasuki ruang dokter lalu meminta sang dokter membuka amplop hasil lab, untuk membaca dan menelaahnya, dan kemudian ia berkata:

" ... Oooh, ternyata Bapak yang mandul, sementara istri Bapak tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagi Bapak untuk sembuh. Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, dan terlihat pada raut wajahnya, wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan pasangan itu tetap bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, dimana sang istri berkata pada suaminya, "Wahai Suamiku, saya telah bersabar selama 9 tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata: "betapa baik dan shalihahnya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama 9 tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan".

Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin engkau menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya. Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: "istriku, ini cobaan dari Allah, kita mesti bersabar, kita mesti .., mesti .., dan mesti .." . � sudah sudah diam, kok malah ceramahin saya sih � sergah sang Istri.

Akhirnya sang istri berkata: "OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih !". Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan sang istri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhlah psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: "semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan ... saya kan�  hix hix hix".

Sang istri pun bed rest di rumah sakit. Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: "Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja". "Haaah, pergi?". Kata sang istri. "Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat". Kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, dikabarkan adanya donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur. Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: "Dasar Suami gak tau diri, suami apaan dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan aku terkapar dalam ruang bedah operasi".

Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Dan subhanallah... Setelah 9 bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah pasangan tersebut, keluarga besar dan para tetangga. Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan study S2 dan S3-nya di sebuah fakultas Syari'ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari 'Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya. Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung.

Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf kepada suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan tangisan pula.

Ya...Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidaklah orang lain melainkan Sang Suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk sang istri.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama 3 bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, sang istri berbicara dengan menundukkan kepalanya, karena tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

Selasa, 12 Januari 2016

Rotasi Kebajikan



Bryan hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri dipinggir jalan itu karena cuaca dingin berkabut tebal, tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil bututnya di depan mobil Mecedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya.
Walaupun dengan wajah tersenyum wanita itu tetap merasa khawatir, karena setelah menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang menolongnya.

Apakah lelaki itu bermaksud menyakitinya?
Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik, ia kelihatan begitu memprihatinkan. Wanita tua itu masih cemas dan  dirinya begitu ketakutan, berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin, sepertinya lelaki tersebut tau apa yang ia pikirkan. Lelaki itu berkata �saya kemari untuk membantu anda bu, kenapa anda tidak menunggu didalam mobil bukankah disana lebih hangat? oh ya nama saya Bryan.

Bryan masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk memperbaiki yang rusak.
Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah, wanita itu membuka kaca jendela mobilnya dan berbicara kepadanya, ia berkata bahwa ia dari St. Louis dan kebetulan lewat jalan ini.

Dia merasa tidak cukup kalau hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Wanita itu berkata "berapa yang harus saya bayar, berapapun jumlahnya yang engkau minta tidak menjadi masalah, karena saya bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika engkau  tidak menolongku". Bryan hanya tersenyum.

Bryan tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar, karena baginya MENOLONG ORANG BUKANLAH SUATU PEKERJAAN YANG HARUS DIBAYAR. Ia sangat yakin apabila menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan tanpa suatu imbalan suatu hari nanti Tuhan pasti akan membalas amal perbuatanya.

Ia berkata kepada wanita itu � Bila ia benar-benar ingin membalas jasa saya, maka apabila suatu saat nanti  jika ibu melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan maka tolonglah orang tersebut �dan ingatlah pada saya�.

Bryan menunggu sampai wanita itu menstater mobilnya dan menghilang dari pandangan.

Setelah berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil, lalu ia mampir kesana untuk makan dan beristirahat sebentar. Pelayan datang dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Wanita itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan.

Setelah wanita itu selesai makan dan, sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi keluar secara diam-diam.

Setelah kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung kemana wanita itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas diatas meja dan uang $1000. Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita itu:
�Kamu tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka inilah yang harus kamu lakukan:
�Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang�.

Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan apa yang di tulis oleh wanita itu.

Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya?
Ia tau bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini, lalu ia memeluk suaminya yang terbaring disebelahnya yang terlihat kelelahan dan memberikan ciuman yang lembut sambil berbisik : �semuanya akan baik-baik saja sayangku, I Love You Bryan�.

Sahabat, ternyata sang pelayan tersebut adalah istri lelaki yang bernama Bryan, Allahu Akbar

�Segala sesuatu yang berputar akan selalu berputar�, therefore, don�t ever to stop to do good things in your life. (Oleh karena itu, jangan pernah berhenti untuk melakukan hal-hal baik dalam hidup Kita )

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri � (Q.S.Al-Isro� : 7)

"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu� (Q.S. An-Nisa : 86).

Minggu, 10 Januari 2016

Roda Kehidupan

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra� : 27)



�Kebahagiaan Tidak Terletak Pada Hidup Yang Berlebihan Tetapi Ada Pada Hidup Yang Berkecukupan�.

Di suatu masa, hiduplah seorang yang kaya raya, namun sayang ia sangat sombong dan tidak peduli terhadap sesama, dirinya selalu dilayani oleh para pelayan dan orangnya pun sangat kasar terhadap siapa saja. Ia hidup dalam kemewahan tanpa peduli kepada orang miskin.

Pada satu hari datang seorang pengemis yang kelaparan ingin meminta makanan kepadanya tetapi dia malah memaki-maki pengemis tersebut. Padahal setiap hari ia selalu membuang sisa makanan diselokan belakang rumahnya.

�Tuan kasihani hamba. Hamba dari kemarin belum makan. Tolong berikan sisa-sisa makanan Tuan kepada hamba� Si pengemis itu memohon dengan suara yang memelas.

�Hei... manusia tidak berguna. Aku tidak sudi memberi makanan untukmu, lebih baik aku buang dari pada dikasihkan kepada kamu� Bentak orang kaya itu dan langsung menutup pintu rapat-rapat. Dirinya tidak mau membagi sedikitpun makanan yang dia punya. Padahal setiap kali dia makan, lauk yang tersaji dimeja makan sangat banyak dan tak sekalipun ia menghabiskannya, dan dia pun tidak pernah mau makan sisa nasi sebelumnya. Begitu jam makan tiba semua yang tersedia diatas meja harus diganti dengan yang baru.

�Ingatlah Tuan, Roda kehidupan selalu berputar tak selamanya hidup tuan diatas� Si pengemis pun dengan langkah yang gontai sambil berlinangan air mata meninggalkan rumah mewah itu.

Hari-hari berikutnya, kehidupan orang kaya itu masih tetap sama. Hatinya tidak pernah terketuk oleh rasa kemanusiaan, yang dia tahu bahwa semua yang dia miliki hanya bisa dinikmati oleh dirinya sendiri.

Sampailah pada satu waktu, ditempat ia tinggal mengalami goncangan gempa yang hebat, seluruh penduduk pun segera meninggalkan rumah untuk menghindari tertimpanya robohan bangunan. Demikian juga dengan para pelayannya masing-masing berusaha menyelamatkan diri tanpa peduli kepadanya. Tapi orang kaya ini selamat juga berkat jerih payahnya, namun segala kekayaannya musnah ditelan bumi. Dan hanya sekejap dia pun menjelma menjadi orang miskin.

Sehari, dua hari dirinya masih bertahan tetapi begitu masuk hari ketiga ia pun tidak mampu melawan rasa lapar. Kepalanya pun mulai berkunang-kunang dan badanpun mulai terasa sakit. Maklumlah dirinya yang selama ini hidup laksana tinggal di istana, tiba-tiba harus menjadi gelandangan tentu tidak gampang untuk menyesuaikan diri, sudah tidak ada lagi keangkuhan yang terpancar dari pandangan mata yang penuh kebencian setiap kali dirinya didatangi para pengemis yang minta belas kasihannya.

Ia pun sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan saat itu pula, Ia melihat ada segerombolan pengemis yang sedang meminta-minta dirinya pun memutuskan untuk bergabung. Akan tetapi keberadaannya tidak diterima, para pengemis yang pernah disakitpun ingin membalas semua yang pernah mereka terima. Ia dihajar habis-habisan dan diludahi oleh para pengemis itu.
�Ini kan orang kaya yang sombong itu� Ucap para pengemis.

Dirinya makin tidak berdaya dan meratapi nasib yang menimpa dirinya, sambil menahan rasa lapar dan sakit disekujur tubuh ia duduk dipinggir jalan. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia pun akan mengalami kesusahan. Tidak lama kemudian pandangannya pun menjadi gelap dan detik berikutnya dia pun tidak sadarkan diri. Dan begitu tersadar ia mendapatkan dirinya sudah ada disebuah gudang tua yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Bekas gudang makanan pun tidak luput dair goncangan gempa. Namun tidak separah rumahnya yang rata dengan tanah, Ia masih merasakan lapar yang luar biasa.

Tiba-tiba dari balik pintu muncul seorang yang ia kenal membawa semangkuk nasi.
�Makanlah. Tampaknya tuan sudah beberapa hari tidak makan�
�Te... terima kasih� Ucapnya dengan nada terbata-bata dan sedikit ragu untuk menerima semangkuk nasi yang disodorkan kepadanya.

�Tuan tidak usah berterima kasih. Apa yang tuan makan sekarang sesungguhnya makanan Tuan sendiri�
�Maksudnya?� Ia bertanya kebingungan.

�Nasi ini, saya dapatkan dari selokan belakang rumah Tuan, setiap hari saya pergi keselokan belakang rumah Tuan dan mengambil sisa-sisa makanan yang Tuan buang, kemudian saya cuci bersih lalu saya jemur. Dan disaat ini semua hampir kekurangan makanan, saya tidak mengalami dan masih berbagi kepada orang lain.�

Dan orang itu ternyata adalah seorang pengemis tua yang pernah beberapa tahun yang lalu saat mengemis didepan rumahnya, kemudian orang kaya yang sudah tidak punya apa-apa itu pun meminta maaf kepada pengemis tersebut dan menyesali semua sikapnya terdahulu.

�Orang Yang Menghambur-hamburkan Apa Yang Dia Miliki Sesungguhnya Ia Adalah Manusia Yang Tidak Mensyukuri Karunia Yang Diberikan Kepadanya.�

Sahabat, Memang benar bahwa roda kehidupan selalu berputar. Tidak selamanya kita selalu ada diatas. Untuk itu saat kita diatas ingatlah bahwa mungkin satu saat kita akan dibawah. Dengan demikian kita tidak akan menjadi lupa diri.

Apapun yang kita miliki dan seberapapun banyaknya hiduplah sewajarnya,  menyenangkan diri tentu tidak ada salahnya selama itu masih didalam batas kewajaran. Dan tidak ada salahnya apa yang kita punya kita bagi dengan orang lain.

DALAM HIDUP TIDAK ADA ORANG YANG MENJADI MISKIN GARA-GARA KITA MEMBANTU ORANG LAIN. Kita Tidak Pernah Tahu Apa Yang Terjadi Besok, Hari Ini Kita Membantu Orang Bukan Tidak Mungkin Besok Justru Kita Dibantu, Seperti Kata Pepatah �BUNGA PUN TIDAK MEKAR SEPANJANG TAHUN.�

Dengan segala apa yang kita miliki, kita tidak perlu menjadi manusia yang angkuh, menyakiti orang lain dengan segala kemewahan yang kita miliki, jangan menari diatas penderitaan orang lain, serta kita juga tidak perlu menciptakan status sosial yang menimbulkan kecemburuan sosial.

Oleh itu Jangan pernah putar Roda Kehidupan kita secara vertikal, karena satu saat kita akan jatuh kebawah dan itu sangat menyakitkan, maka putarlah roda kehidupan kita secara horisontal, maka kehidupan kita akan tenang dan stabil.

Oleh itu Jangan pernah putar Roda Kehidupan kita secara vertikal, karena satu saat kita akan jatuh kebawah dan itu sangat menyakitkan, maka putarlah roda kehidupan kita secara horisontal, maka kehidupan kita akan tenang dan stabil.

Jika saat ini kita berkelebihan rezeki, maka berbagilah, agar roda kehidupan kita tidak berputar vertikal.

Jumat, 08 Januari 2016

Raih Bahagia Dengan Bersyukur

Ada sepasang suami istri setiap hari kemana-mana selalu dengan mobil mewah. Mereka adalah pasangan yang begitu sibuk dengan berbagai aktivitas. Maklum sang suami adalah seorang pengusaha sukses dan istri adalah wanita karir. Dan anak merekapun disekolahkan di tempat yang terbaik dengan segala fasilitas yang serba mewah. Tentunya si anak juga disediakan sopir yang mengantarnya kemana ia pergi.

Mereka terkenal di sekitar tempat tinggal mereka dan hampir semua orang mengenalnya termasuk mengenal baik semua kendaraan yang mereka pakai. Mereka memang tidak tinggal dilingkungan khusus orang kaya. Para tetangga masih banyak hidup sederhana. Tidak masalah mereka tetap dapat hidup rukun berdampingan. Dan masing-masing mempunyai kehidupan sendiri.

Seperti biasanya mereka berangkat pagi dan baru pulang menjelang malam dan itu berlangsung entah sudah berapa lama.
�Pak, lihat betapa bahagianya mereka. Jam segini mereka sudah bercengkrama dengan keluarga sedangkan kita masih dibuk dengan segudang pekerjaan� Ucap istri ketika melintasi sebuah keluarga sederhana yang sedang berbincang-bincang diteras rumah.

�Iya...ya...ma. kapan yach kita bisa seperti mereka yang setiap saat bisa menikmati waktu santai dengan keluarga� Dan suaminya pun mengiyakan sambil menarik nafas dalam-dalam. Begitu terasa ada beban yang begitu berat menghimpit dada mereka.

�Kadang-kadang mama rasanya ingin meninggalkan semua ini dan hidup bahagia seperti mereka."

Sedangkan dari teras rumah yang dimaksud juga merasakan hal yang sama
�Pak, kapan yach kita bisa seperti mereka. Kemana-mana selalu naik mobil mewah. Ibu yakin hidup mereka pasti sangat bahagia� Ucap istri Sang pemilik rumah sederhana sambil menunjuk mobil yang baru melintasi depan rumahnya.

�Bapak bisa merasakan hal yang sama, kapan kita menjadi orang kaya, bapak selalu ingin berkerja keras tapi tidak ada yang harus dikerjakan� Pandangannya menerawang jauh kedalam.

Dilain waktu anak orang kaya itu tidak kalah gelisahnya ketika menyaksikan anak-anak sebayanya diantar jemput sama orang tua mereka kesekolah, tidak seperti dirinya yang selalu diantar jemput sama sopir.

�Alangkah bahagianya mereka, kemana-mana selalu dengan orang tua sedangkan orang tuaku tidak pernah melakukannya. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis mereka. Aku iri dengan mereka� Anak itu mengeluh dan menitikkan air mata.

�Aku ingin seperti anak yang ada di mobil itu. Kemana-mana ada yang antar kalau hujan tidak kehujanan dan kalau panas tidak kepanasan dan tidak perlu capek berjalan kaki berkilo-kilo meter� Anak lain yang sedang berjalan kaki menyampaikan isi hatinya kepada orang tuanya yang ada di sampingnya.

Sahabat.......,
Cerita diatas menggambarkan bahwa manusia selalu melihat orang lebih baik darinya. Dan kita juga sering mendengar bahwa�Manusia memang tidak pernah ada puasnya� Omongan ini benar bagi orang-orang yang memang dikendalikan oleh hawa nafsu, karena kalau kita mau mengikuti nafsu maka tidak akan pernah habis. Sebelum kaya ingin menjadi kaya setelah kaya ingin menjadi lebih kaya lagi. Dan saat merasa dirinya benar-benar kewalahan mempertahankan segala efek yang ditimbulkan oleh kekayaannya dirinya merasa lelah, merasa tidak ada waktu lagi untuk berkumpul dengan keluarga. Contoh lainnya sebelum menjadi orang terkenal ingin menjadi orang yang terkenal begitu terkenal, dirinya mengeluh lagi, merasakan ruang geraknya menjadi terbatas dan tidak ada privaci lagi.


Saat menjadi pengangguran hidup begitu stress, ketika mendapatkan pekerjaan, mengeluh lagi merasakan tidak ada waktu bersantai. Demikian juga pada seorang bintang sinetron saat belum mendapatkan peran, cari kemana-mana. Begitu mendapatkannya setiap hari harus suting sampai larut malam, ia marah-marah karena tidak ada waktu untuk istirahat.

Pengangguran ingin menjadi karyawan, karyawan ingin menjadi bos sedangkan bos selalu stress merasakan beban yang dipikul terlalu berat dan merasakan dirinya selalu bekerja keras tidak seperti lainnya ada begitu banyak waktu tersisa untuk keluarga.

Hidup Bahagia Tentu Ada Kuncinya !
Salah satunya yaitu kita HARUS BERSYUKUR dan tidak membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, setiap manusia pasti mempunyai masalah dan beban masing-masing yang tidak diketahui oleh orang lain. Orang hanya bisa melihat sisi luarnya saja dalam hati siapa yang tahu.

Kita melihat orang lain baik, orang lain melihat hidup kita enak. Kita ingin menjadi seperti mereka demikian juga sebaliknya, ketahuilah kita tidak bisa menjadi orang lain. Dan sekali lagi itu adalah perbuatan setan yang bernama nafsu.

Namun manusia bersyukur bukanlah manusia yang pasrah kepada keadaan. Manusia yang bersyukur adalah manusia yang selalu lapang dada menerima hasil dari usahanya yang optimal, sedangkan manusia yang putus asa adalah manusia yang menerima nasibnya tanpa ada usaha.

Apapun dan berapapun yang didapatkan dari hasil usahanya bagi manusia yang bersyukur selalu berkecukupan. Karena Manusia yang selalu bersyukur tahu berapapun yang di dapatkan dalam dunia ini tidak akan pernah cukup. Kalau sudah seperti itu kenapa kita harus memaksakan diri untuk mengejar sesuatu yang memang tidak pernah cukup ?

Suatu hari ada orang miskin yang datang menghadap kepada Nabi Musa Alaihissalam pakaiannya lusuh dan badannya kurus tak terawat. Berkatalah orang miskin itu kepada Nabi Musa, 'Ya Nabi, tolong sampaikan kepada Alloh SWT, mohonkan aku, agar aku menjadi orang kaya.

"Saudaraku, perbanyaklah bersyukur kepada Alloh SWT," jawab Nabi Musa sambil tersenyum padanya. Orang miskin itu terkejut mendengar jawaban Nabi Musa, dengan nada marah dia mengatakan, "Bagaimana aku bersyukur, makan aja susah, apa lagi pakaian cuman satu sudah begitu compang camping lagi." Kemudian dia ngeloyor pergi meninggalkan Nabi Musa.

Tak lama kemudian datang orang kaya menghadap Nabi Musa, "Ya Nabi, tolong sampaikan kepada Alloh SWTmohonkan aku, agar aku menjadi orang miskin aja karena harta yang banyak membuat hidupku tidak nyaman."

"Saudaraku, perbanyaklah bersyukur kepada Alloh SWT," jawab Nabi Musa sambil tersenyum padanya. Orang kaya itu terkejut mendengarkan jawaban Nabi Musa, tanpa berkata apapun dia akhirnya pulang ke rumah. Beberapa hari kemudian orang kaya itu bertambah kaya karena sejak itu selalu bersyukur dan orang miskin semakin miskin karena enggan bersyukur atas semua karunia Alloh SWT.

�Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. ( Q.S. Al-Ma�arij : 19-21)

Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim : 7)

Kamis, 07 Januari 2016

Playboy Betawi


Jika tinggal di Jakarta Barat, pasti Kita tahu Jalan Toko Tiga, yaitu sebuah jalan di kawasan Glodok dekat Jalan Pancoran. Pada paruh pertama abad ke-19, kira-kira tahun 1830, di kawasan Toko Tiga terdapat sebuah toko tembakau terhesar di Batavia (Jakarta, sekarang). Pemiliknya seorang juragan bemama Oey Thay yang berasal dan Pekalongan. Bisnis tembakaunya sangat maju. Apalagi pada masa itu sebagian besar penghuni Batavia gemar mengunyah sirih, begitu pula penduduk di wilayah lainnya. Bisnis tersebut tidak hanya membuatnya kaya raya, tapi juga mengangkat gengsinya di mata masyarakat.

Oey Thay meninggal dunia pada usia 50 dengan meninggalkan empat anak dan harta warisan yang sangat banyak. Warisannya meliputi hamparan tanah luas di Pasar Baru, Curug, dan Tangerang dengan sewa 95 ribu gulden setahun. Padahal pada zaman itu, kebutuhan sehari sudah bisa tercukupi dengan uang 10 gulden. Selain tanah, warisan Oey Thay lainnya adalah beberapa rumah, uang, dan perhiasan. Total kekayaannya ditaksir mdncapal dua Juta gulden. Lagi-lagi pada waktu itu, hanya segelintir orang memiliki kekayaan sedemikian besar.

Warisan yang dipercaya tidak akan habis tujuh turunan tersebut jatuh bak durian runtuh kepada anak-anaknya. Sayang, sang juragan tembakau tidak mewariskan kearifan hidup pada generasi penerusnya. Akibatnya, anak-anaknya hidup dengan menghambur-hamburkan uang.

Salah seorang putranya yang paling terkenal adalah Oey Tambahsia. Selain bertampang rupawan, Oey gemar berfoya-toya dan mengejar gadis-gadis. Hobinya berkuda mengelilingi Kota Batavia. Biar terlihat keren, anak muda itu memakal baju mewah dan dikelilingi para pengawal. Bahkan kudanya, yang juga gagah, diimpor dari Australia.

Sambil berkeliling, mata Oey jelalatan mencari gadis gadis jelita. Namun, tidak semua orang terpukau oleh kemilau harta benda. Buktinya, banyak juga orangtua yang buru-buru menyembunyikan anak gadisnya di rumah. Bahkan pintu-pintu rumah ditutup supaya kecantikan mereka tidak terlihat oleh playboy tersebut.

Di sisi lain warisan harta yang banyak justru membuat Oey Tambahsia kebingungan. Dia mulai melakukan hal-hal aneh. Dia hambur-hamburkan uang jerih payah almarhum ayahnya dengan cara yang tak masuk akal. Di Jalan Toko Tiga terdapat sebuah sungai yang saat itu airya masih jemih, Tiap pagi, begitu Oey Tambahsia selesai buang air besar di sungai, belasan orang sudah menunggu di hilirnya. Ternyata Oey Tambahsia membersihkan sisa kotorannya dengan uang kertas. Uang-uang kertas itu lalu dibuangnya ke sungai.

ltu saat-saat yang menggembirakan bagi sekelompok manusia yang sejak pagi buta berkumpul di aliran sungai itu. Mereka berebut uang kertas yang dibuang Oey. Bahkan tak jarang ada yang terluka karena berkelahi. Anehnya, Oey Tambahsia justru senang melihat akibat yang ditimbulkan oleh perbuatannya itu.

Perjalanan sang playboy pun sampai ke wilayah Senen. Kebetulan dia melihat seorang gadis molek dari keluarga Sim muncul dari balik pintu rumah. Kejadian itu disebut kebetulan karena pada masa itu gadis-gadis Tionghoa bernasib sama dengan gadis pribumi yang dipingit dalam rumah. Para gadis keluar rumah hanya untuk keperluan penting dan itu pun harus ditemani orangtua atau kerabatnya.

Singkat cerita, Oey Tambahsia berhasil mempersunting si gadis cantik dengan bermodalkan ketampanan, harta benda, dan rayuannya. Maka digelarlah pesta pernikahan yang diyakini sebagai pernikahan terbesar di Batavia. kemeriahan pesta perkawinan itu disemarakkan oleh penampilan wayang potehi, tayuban, arak-arakan, dan kembang api.

Pesta besar itu berlangsung beberapa hari. Akibatnya, Mayor Cina Tan Eng Goang yang tinggal di jalan yang sama jadi geram. Dewan Cina pun merasa dilangkahi karena Oey mengadakan pesta dengan menutup akses jalan tanpa meminta izin. Oey Tambahsia tak peduli dengan perasaan dan kepentingan orang lain.

Rupanya pesta meriah dengan biaya besar tidak menjamin kebahagiaan rumah tangga. Oey Tambahsia hanya beberapa minggu saja menikrnati perkawinannya, setelah itu dia pun bosan dan istrinya ditelantarkan. Playboy itu kembali kepada perangai aslinya, berfoya-foya dan bermain wanita. Dia mempunyai Vila Bintang Mas di Ancol yang digunakan sebagal tempat maksiat. Petualangan cintanya pun sampal ke Pekalongan hingga terpikat pada seorang pesinden dan langsung membawanya ke Batavia.

Sejak itu rumah tangganya berantakan dan Oey Tambahsia semakin lupa daratan. Dia menjadi pernbunuh berdarah dingin. Demi kemajuan bisnisnya, dia rnernbunuh pesaingnya dengan cara keji. Sialnya, sang korban adalah menantu Mayor Cina.
Oey Tambahsia pun kena batunya. Dia dijatuhi hukuman  mati dengan cara digantung. Ketika tali gantungan terkalung di lehernya, sang algojo menendang tempat pijakan Oey Tambahsia sehingga terjeratlah lehernya. Dia meregang nyawa di tiang gantungan dalam usia 31 tahun, Ketampanan dan keangkuhan bukan saja mengakhiri hidupnya, tapi juga merenggut seluruh kebahagiaannya.

- Sebaik-baik warisan adalah Ilmu yang bermanfaat dan Akhlak yang terpuji itulah yang akan mengantar kepada kebahagiaan.

- Kebahagiaan tidak dicapai dengan memiliki banyak wanita simpanan, tapi membangun cinta yang tulus dengan istri.

- Kekayaan dan ketampanan tak akan mampu membeli kebahagiaan sejati.

- Kebahagiaan mendapatkan wanita cantik bukan jaminan memperoleh cintanya.

�Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.� (QS. An-Nisaa`: 9).

Senin, 04 Januari 2016

Pesona Kecantikan



Subhan tidak bisa menolak apa yang telah direncanakan orangtuanya, yaitu perjodohan dengan perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya.

�Azizah adalah perempuan yang sangat baik. Dia pandai menata rumah. Selain itu, dia adalah perempuan yatim piatu yang salihah,� kata ibunya.

�Bagiku, perempuan salihah yang akan mendampingimu jauh lebih berharga dibandingkan semua perempuan cantik di dunia ini,� lanjut ayahnya mantap.

Hati Subhan berontak. Namun, dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka karena menentang orangtua. Akhirnya, dia pasrah dan menuruti kemauan orangtuanya.

�Jika kau setuju, Anakku. Kami akan menjemput Azizah di kampungnya,� ujar ayahnya.
Bagaimana mungkin aku tidak setuju? Kata subhan dalam hati.
Subhan hanya mengangguk setuju. Ia tak ingin mengecewakan keinginan orangtuanya. Jika perjodohan ini membuat orangtuanya bahagia, Subhan akan menyetujuinya. Bagi Subhan, tidak ada yang lebih berharga selain membahagiakan orangtuanya.

Paras Subhan yang tampan memudahkan dirinya memilih perempuan cantik mana pun yang akan dijadikan istrinya. Sebenarnya, Subhan memiliki kriteria sendiri untuk calon pendampingnya. Dia ingin mendapatkan seorang perempuan yang elok. Semua harapannya tinggal impian. Azizah, gadis yang dijodohkan dengannya, sama sekali tidak dia ketahui rupanya.

Ketika khitbah, sekilas ia menatap wajah calon istrinya. Menurut ayah dan ibunya, Azizah baik. Subhan bisa melihat dari wajahnya yang teduh dan damai, tetapi tidak ada guratan kecantikan di sana. Aaah...

Azizah adalah perempuan dengan rupa yang sederhana, jauh dari kriterianya. Batin Subhan menjerit, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di lubuk hatinya, dia tetap menilai kecantikan perempuan bukan sekadar baik. Namun, perempuan itu haruslah memiliki tubuh tinggi, langsing, mata bulat lengkap dengan bulunya yang lentik, hidung mancung, bibir ranum, dan kulit yang indah. Azizah, tidaklah demikian.

Perjodohan harus terlaksana. Subhan tidak bisa menolak keinginan orangtuanya. Dengan sekuat tenaga, Subhan mengusir kriteria perempuan dan berusaha menerima Azizah apa adanya. Berusaha mencintainya, walau rasanya itu akan sia-sia saja.

Akhirnya, pernikahan terjadi. Subhan melihat Azizah begitu bahagia. Sinar matanya mengatakan hal itu. Subhan berusaha untuk bahagia. Demi orangtuanya, Subhan berusaha membuat semuanya terlihat bahagia, walau setiap malam hatinya menjerit. Begitu sulit melepaskan diri dari kriteria perempuan impiannya.

Hari demi hari, dia semakin tidak mampu berpura-pura bahagia. Subhan merasa hidupnya sia-sia. Dia mulai marah dengan keadaan itu. Ya, dia mengakui bahwa Azizah melayaninya dengan baik. Azizah seorang istri yang baik, tetapi itu tidak cukup membuat Subhan mencintainya.

Subhan mulai mengacuhakan Azizah. Azizah semakin menyadari bahwa suaminya tidak mencintainya. Subhan semakin ketus hingga akhirnya Azizah bertanya kepadanya, tetapi Subhan tak menjawab.

�Apa pun yang kaulakukan padaku, aku akan tetap mengabdi padamu sebab kau adalah suamiku,� ujar Azizah mantap.

Subhan hanya diam tak menyahut. Ternyata memang benar, walau Subhan bertindak seenaknya, Azizah tetap melayani Subhan dengan baik. Azizah memang istri yang baik dan benar kata orangtuanya, Azizah juga perempuan yang salihah. Saat tengah malam, dia tak pernah absen shalat tahajud dan melantunkan ayat Al-Qur�an. Namun hal itu sama sekali tidak membuat hati Subhan tergugah.

Kadang, Subhan memaki dirinya sendiri. Mengapa dia begitu terobsesi pada perempuan cantik ? Bukankah dalam agama Islam diajarkan bahwa keimanan adalah faktor terpenting dalam memilih pasangan?

�Aku hamil,� kata Azizah suatu pagi.
Subhan hanya menatapnya dengan dingin.

Pada suatu hari, di tengah perjalanan menuju rumah, Subhan bertemu dengan sahabat lamanya. Wajah sahabatnya itu sungguh berduka.
�Mengapa kau terlihat bersedih?� tanya Subhan.
Sahabat Subhan lalu mengajak Subhan berteduh di sebuah masjid.
�Aku ingin bercerita,� katanya.
Subhan berjalan mengikuti sahabatnya menuju masjid. Dalam hatinya ia bertanya tentang hal yang ingin di ceritakan sahabatnya itu. Seharusnya dia bahagia karena telah menikahi seorang perempuan yang sangat cantik.

�Ini mengenai pernikahanku. Maafkan aku, ya Allah...� desisnya pelan. �Aku tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan istriku, tapi...� lanjutnya.
�Apa yang terjadi?� tanya Subhan.
�Kau tahu betapa aku sangat mencintai istriku. Kuakui aku jatuh cinta padanya karena dia sangat cantik dan sempurna.�
�Ya�,� terbayang di benak Subhan wajah istri sahabatnya yang memang sangat cantik.
�Pada awalnya, orangtuaku tidak merestui hubungan kami. Hingga Ayah menanyakan, mengapa kau tidak menikahi perempuan yang salihah? Ya, memang benar istriku tidak sempurna dalam akhlaknya. Dia adalah perempuan yang jarang mengaji dan shalat. Hatiku telah dibutakan oleh kecantikannya.�

�Lalu?� tanya Subhan penasaran.
�Ternyata, pernikahanku memang tidak bahagia. Istriku terlalu banyak menuntut. Awalnya, aku memaklumi karena dia memang masih awam dalam hal agama. Aku sebagai suaminya, akan berusaha menuntunnya. Namun, aku justru semakin tersiksa dengan sikapnya. Jika tuntutannya tidak kukabulkan, dia tidak memperlakukanku seperti seorang suami. Istriku sangat boros, bahkan kini aku memiliki begitu banyak utang karenanya. Ketika aku menegurnya, dia beralasan karena aku tidak bisa mencukupi kebutuhannya, padahal...�

�Ya�?� mata Subhan membulat.
�Tahukah kau? Orangtuaku kini jatuh miskin karena semua yang mereka miliki diberikan kepadaku demi membahagiakan istriku.�

Subhan tertegun.
�Kini, aku tidak memiliki apa-apa lagi. Istriku malah semakin tidak menghormatiku,� kata sahabat Subhan sambil menitikkan air mata.
�Istriku meminta cerai. Alasannya, dia bisa lebih bahagia dengan lelaki kaya yang sanggup memberikan segalanya.�

Cerita sahabatnya itu membuat hati Subhan teriris. Apa yang sudah dia lakukan pada Azizah sungguh tidak adil. Allah memberinya jodoh terbaik. Azizah memang tidak cantik, tetapi dia adalah seorang perempuan yang salihah. Dia adalah seorang istri yang sangat menghormati suaminya. Dia adalah istri yang tak pernah menuntutnya, bahkan dia memberikan cinta tanpa pamrih yang begitu indah.

Selepas mendengarkan kisah pilu sahabatnya, diam-diam hati Subhan bertekad bahwa tidak ada lagi kriteria perempuan impian dalam hatinya. Bidadari itu sudah dikirimkan Allah untuknya.
�Azizah, aku akan berusaha mencintaimu,� kata Subhan dalam hatinya.

Sebelum pulang, Subhan menyempatkan diri ke sebuah toko untuk membeli sebuah jilbab yang cantik. Dia ingin membuat Azizah bahagia dan memberinya senyum yang manis. Setiba di rumah, ketukan pintu Subhan tidak dihiraukan.
�Ke mana istriku?� tanyanya dalam hati.
Kreeeek� ternyata pintu rumah tidak terkunci.
�Assalamu�alaikum�
�Wa�alaikum salam.� Dari arah kamar, terdengar suara lirih Azizah.

Dengan langkah cepat, Subhan menuju kamar. Dilihatnya Azizah tergeletak di kasur dalam keadaan lemas.
�Ya Allah, apa yang terjadi padamu?� Subhan memeluk Azizah.
�Aku terjatuh di kamar mandi,� jawab Azizah lirih.
�Kenapa kau tidak pergi ke rumah sakit? Tidak adakah yang menolongmu?� Subhan gusar.
�Aku belum meminta izinmu, Suamiku.�

Subhan menangis, dadanya terasa sesak. Dalam tangisannya, terbayang sikapnya yang tidak adil kepada Azizah. Pengorbanan dan pengabdian Azizah sungguh luar biasa. Subhan memeluk erat tubuh Azizah hingga Subhan merasakan detak jantung Azizah berhenti. Azizah meninggal dalam pelukannya dengan wajah yang sangat teduh. Dia terlihat cantik. Dalam penyesalan yang meyeruak, Subhan merasakan angin sejuk menghampiri dirinya. Cahaya cinta yang memancar dari wajah Azizah semakin kuat untuknya. Subhan menyesal karena tidak memberikan hatinya untuk perempuan itu.

Di samping tubuh Azizah, terdapat sepucuk surat. Subhan lalu membacanya dengan pandangan yang terhalang air mata.

Suamiku, maafkan aku karena tidak membuatmu bahagia. Berikan ridha dan ikhlasmu untukku dan anak kita. Aku mencintaimu. ISTRIMU

Subhan menangis tersedu-sedu, � Kenapa cinta ini datang terlambat, ya Allah, ampuni aku ya Allah, aku menyesal, akankah aku bisa mendaptkan Azizah kembali ya Allah?�

ya, Allah menghukumnya dengan penyesalan yang luar biasa.

�sesungguhnya, dunia seluruhnya adalah benda (perhiasan) dan sebaik-baik benda (perhiasan) adalah wanita (istri) yang salihah.� (HR. MUSLIM)

"Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini, (yaitu) dari hal perempuan dan anak laki-laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kenderaan yang diasuh, dan binatang-binatang ternak dan sawah-ladang. Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia. Namun di sisi Allah ada (lagi) sebaik tempat kembali"

"Katakanlah: sukakah kamu aku ceritakan kepada kamu apa yang lebih baik daripada yang demikian, di sisi Tuhan mereka, bagi orang-orang yang bertakwa? Ialah syurga-syurga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan isteri-isteri yang suci, dan keridhaan dari Allah. Dan Allah melihat akan hamba-hambaNya." ( QS. Ali Imron : 14-15 )

Bagaimana? mana yang yang lebih menggiurkan JANJI ALLAH SWT atau RAYUAN KENIKMATAN SESA'AT?

Jumat, 18 Desember 2015

Andai Waktu Bisa Berulang



rumahyatimindonesia.com | Matanya ke sana ke mari, entah mencari apa. Dari wajah dan pakaianya yang lusuh tampaknya ibu ini barusan berpergian yang jauh. Apalagi ia membawa tas pakaian yang reslitingnya sudah rusak, sehingga pakaian yang ia bawa tampak dari luar. Aku kuatir ia akan ditipu oleh para calo yang ada di terminal Joyoboyo ini, karena biasanya wajah yang binggung seperti ibu ini akan mudah sekali menjadi korban calo terminal. "Ibu mau kemana?" tanyaku. "Saya mau ke Kupang", jawabnya lirih. Jarak Kupang (sebuah daerah di Surabaya) dari terminal Joyoboyo tidaklah terlalu jauh kurang lebih 5 kilometer. "Ibu tahu lyn (angkutan kota) ke Kupang?" tanyaku lagi. "Tahu, Mas", jawabnya dengan tatapan sayu. "Baiklah Ibu, saya duluan", aku berpamitan meninggalkan ibu tersebut.

Kebetulan kali ini aku lagi bersama dua teman tengah berjalan kaki dari Gedung Jatim Expo menuju ke kantor di jalan Bogowonto, dan jalur yang aku tempuh ini searah dengan jalur menuju Kupang. Ketika tanpa sengaja aku menoleh ke belakang, ternyata ibu tersebut juga berjalan kaki kurang lebih lima puluh meter di belakangku, padahal katanya tadi akan naik angkutan ke Kupang. Beberapa kali aku menoleh, dan ternyata ia masih di belakangku. Pasti ada masalah ibu ini pikirku.

Ketika tepat di depan patung Suro dan Boyo di depan Kebun Binatang Surabaya aku menghentikan langkah sambil menjelaskan kepada teman yang berasal dari Makassar arti historis dari patung tersebut yang menjadi awal mula dari nama kota Surabaya. Sebenarnya aku berhenti ini sambil memperhatikan ibu ini, ternyata ia melewatiku begitu saja, berarti dia tidak ada maksud apapun kepadaku, maka aku segera kembali berjalan di belakangnya.

"Ibu katanya mau naik lyn ke Kupang, tapi kok jalan", tanyaku. "Ya ...", jawabnya lirih mungkin karena kecapaian dalam perjalanan. "Tapi mengapa Ibu masih jalan kaki?" tanyaku. "Saya tidak punya uang", jawabnya dengan lebih lirih mungkin karena malu mengatakannya. "Rumah Ibu dimana?" tanyaku untuk mempertegas apakah ibu ini berbohong atau tidak. "Di Banyu Urip", jawabnya. "Banyu Urip mana?" tanyaku lagi. "Banyu Urip gang Bok Abang", jawabnya lagi. Berarti ia akan naik angkutan 2 kali dari sini. Segera aku sodorkan uang lima ribu rupiah, "Ini Ibu untuk naik lyn", ucapku. Seketika itu wajahnya berubah sangat luar biasa menjadi cerah dan bibirnya tersenyum, "Terima kasih, Mas", ucapnya spontan sambil menerima uang. Segera ia melambaikan tangan untuk menghentikan angkutan, dan segera ia naik angkutan yang menuju Kupang.

Kejadian tersebut sangat cepat tiba-tiba ia sudah naik angkutan, dan angkutan sudah berjalan meninggalkan aku yang masih terdiam. Mungkin ia sudah sangat ingin bertemu keluarganya, tapi dalam hatiku ada rasa sesal yang dalam. Maksudku menyodorkan uang lima ribu rupiah tadi untuk mengetahui apakah ia berbohong atau tidak, sebab biasanya jika berbohong responnya akan masih seperti kekurangan atau minta tambah. Tapi ternyata Ibu tadi tidak berbohong, sehingga uang lima ribu yang aku berikan sudah sangat berharga dan berarti baginya.

Astaghfirullah, seandainya saya tadi bisa menambah lebih banyak lagi, tentunya tidak hanya untuk biaya naik angkutan saja yang bisa ia bayar, mungkin ia bisa membelikan roti sisir yang harga hanya dua ribu lima ratus rupiah saja untuk anak-anaknya yang menunggunya di rumah. Jika lima ribu rupiah yang pertama bisa membuat ia bahagia karena dapat naik angkutan untuk pulang, dan dengan tambahan yang lebih akan membuat anak-anaknya bergembira menyambutnya, berarti akan semakin banyak wajah yang kembali tersenyum. Tapi mengapa tadi aku ragu memberikan tambahan lima ribu lagi ?

Sahabat, penyesalan seperti ini pernah terjadi di masa Rasulullah SAW, seperti kisah dibawah ini :

Seperti biasa ketika hari Jum'at tiba para kaum lelaki berbondong-bondong menunaikan ibadah Sholat Jum'at ke Masjid, ketika itu ada seorang Sahabat sedang bergegas menuju ke Masjid di tengah jalan berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya, lalu sahabat ini dengan sabar dan penuh kasih membimbingnya hingga tiba di masjid.

Pada hari yang lain ketika waktu menjelang Shubuh dengan cuaca yang amat dingin, Sahabat tersebut hendak menunaikan Jama'ah Sholat Shubuh ke Masjid, tiba-tiba ditengah jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan, kebetulan Sahabat tadi membawa dua buah mantel, maka ia mencopot mantelnya yang lama untuk diberikan kepada lelaki tua tersebut dan mantelnya yang baru ia pakai

Pernah juga pada suatu ketika Sahabat tersebut pulang ke rumah dalam keadaan sangat lapar, kemudian sang istri menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging, namun tiba-tiba ketika hendak memakan roti yang sudah siap santap untuk dimakan tadi datanglah seorang musafir yang sedang kelaparan mengetuk pintu meminta makan, akhirnya roti yang hendak beliau makan tersebut dipotong menjadi dua, yang sepotong diberikan kepada musafir dan yang sepotong lagi beliau memakannya.

Maka ketika Sahabat tersebut wafat, Rosulullah Muhammad SAW datang, seperti yang telah biasa dilakukan beliau ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rosulullah berkata," Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?"

Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal" "Apa yang di katakannya?" "saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum wafat, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong."

"Bagaimana bunyinya?" desak Rosulullah.

Istri yang setia itu menjawab, "suami saya mengatakan "Andaikata lebih panjang lagi......andaikata yang masih baru...... andaikata semuanya......."
hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?"

Rosulullah tersenyum."sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya.

Jadi begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum'at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun.

Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan betapa luar biasanya pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan lebih panjang lagi". Maksud suamimu, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.

Ucapan lainnya ya Rosulullah?" tanya sang istri mulai tertarik.

Nabi menjawab,"adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan.

Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.

Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi".Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?" tanya sang istri makin ingin tahu.

Dengan sabar Nabi menjelaskan,"ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan.

Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata � kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab ANDAIKATA SEMUANYA KUBERIKAN KEPADANYA, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda

Sahabat, coba sejenak renungkan Ayat-Ayat dibawah ini :

�(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: �Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan. (Qs. Al Mu�minuun : 99-100)

�Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: �Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?� Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.� (Qs. Al Munaafiquun : 10-11)

�Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: �Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.� (Kepada mereka dikatakan): �Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?�(Qs. Ibrahim : 44)

�Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: �Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa�at yang akan memberi syafa�at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?.� (Qs. Al A�raaf : 53)

�Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): �Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.� (Qs. As Sajdah : 12)

�Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: �Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman�, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.� (Qs. Al An�aam : 27-28)

�Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: �Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?� (Qs. Asy Syuura :44).